Senin, Maret 9, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISTiongkok Vs Amerika Serikat, Dari Halteng ke Halbar

Tiongkok Vs Amerika Serikat, Dari Halteng ke Halbar

  • Ringkasan
  • Provinsi Maluku Utara kini berada di pusaran perebutan pengaruh ekonomi global. Cadangan nikel laterit berskala dunia menjadikan wilayah ini sebagai simpul strategis dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan energi masa depan. Pada era Presiden Joko Widodo, Tiongkok masuk melalui investasi industri nikel masif yang mempercepat hilirisasi dan mendongkrak ekspor Indonesia. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat lokal, dengan ketimpangan ekonomi dan kerusakan lingkungan yang tetap tinggi.
  • Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Amerika Serikat mulai menanamkan pengaruh melalui investasi energi panas bumi di Halmahera Barat. Rivalitas dua kekuatan ekonomi ini menempatkan Halmahera sebagai arena pertarungan kapitalisme global, bukan melalui perang terbuka, tetapi melalui investasi, teknologi, dan penguasaan rantai pasok. Pertanyaan utamanya bukan lagi siapa yang datang berinvestasi, melainkan siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari kekayaan sumber daya tersebut.

 

IndoBisnis – Berbagai riset global menunjukkan bahwa wilayah kaya sumber daya alam sering diposisikan sebagai wilayah pinggiran atau periphery, yakni ruang pasok bagi kekuatan kapitalis global yang saling berebut dominasi.

Fenomena ini bukan hal baru. Sejarah mencatat bagaimana Portugis dan Spanyol memperebutkan cengkeh dan pala di Ternate dan Tidore. Kini, pola serupa bergeser ke Halmahera, terutama di Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Halmahera Barat.

Mukhtar A Adam menegaskan bahwa transformasi sistem produksi global dalam dua dekade terakhir telah mengubah status wilayah-wilayah ini menjadi simpul strategis dalam rantai nilai global.

“Transformasi sistem produksi global telah menggeser status wilayah tertentu dari sekadar pinggiran menjadi simpul strategis dalam rantai nilai global,” tulis Mukhtar.

Keberadaan cadangan nikel laterit berskala dunia, dikombinasikan dengan meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk transisi energi, menjadikan Maluku Utara sebagai bagian integral dari persaingan geopolitik global abad ke-21.

Menurut Mukhtar, rivalitas global kini tidak lagi berlangsung melalui diplomasi semata, tetapi melalui investasi, teknologi, dan penguasaan rantai pasok.

Pergeseran Sistem Ekonomi Dunia: Dari Globalisasi ke Perebutan Simpul Strategis

Mukhtar menjelaskan bahwa sejak krisis finansial global 2008, sistem ekonomi dunia telah mengalami pergeseran mendasar. Negara-negara besar kini berlomba menguasai simpul strategis produksi global, bukan sekadar bersaing dalam tarif perdagangan.

Ia menyebut fenomena ini sebagai weaponized interdependence, di mana ketergantungan ekonomi digunakan sebagai alat kekuasaan geopolitik.

Dalam konteks ini, nikel menjadi aset strategis global.

“Nikel bukan lagi komoditas biasa, melainkan geostrategic asset yang menentukan masa depan industri kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan pertahanan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat menggunakan pendekatan berbeda.

Tiongkok mengandalkan kapitalisme industrial berbasis negara, fokus pada produksi massal dan penguasaan manufaktur.

Sebaliknya, Amerika Serikat menekankan kontrol atas teknologi tinggi, standar global, sistem keuangan, dan legitimasi lingkungan melalui rezim ESG, HAM, dan keamanan ekonomi.

Era Jokowi: Industrialisasi Cepat, Tiongkok Kuasai Rantai Produksi

Masuknya Tiongkok ke Halmahera merupakan bagian dari strategi industrialisasi cepat yang diambil pemerintah Indonesia pada era Presiden Joko Widodo.

Mukhtar menjelaskan bahwa keputusan tersebut didorong oleh kondisi struktural Indonesia pasca-2014, termasuk keterbatasan fiskal, defisit infrastruktur, dan ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

“Dalam kerangka developmental state, Jokowi mengambil posisi pragmatis dengan menggandeng mitra yang mampu membangun cepat,” tulisnya.

Tiongkok menawarkan pembiayaan besar, teknologi siap pakai, dan kesiapan mengambil risiko investasi di wilayah dengan infrastruktur terbatas.

Dampaknya signifikan. Hilirisasi berjalan cepat, kapasitas smelter meningkat tajam, dan Indonesia bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok global.

Mukhtar menulis, “Nilai ekspor berbasis nikel melonjak dan Indonesia memperoleh posisi tawar baru dalam pasar global.”

Pertumbuhan Tinggi, Ketimpangan Lokal Tetap Menganga

Namun, Mukhtar menegaskan bahwa keberhasilan industrialisasi tersebut tidak sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal.

Ia menyebut fenomena ini sebagai pertumbuhan berbasis sumber daya tanpa pembangunan yang merata.

“Lonjakan PDRB hanya tercatat dalam statistik, tetapi tidak mengalir ke masyarakat lokal,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar nilai tambah ekonomi terserap oleh oligarki dan pelaku usaha di luar daerah. Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah rendah, transfer teknologi minim, dan masyarakat lokal tetap menghadapi tekanan inflasi dan kerusakan lingkungan.

Dengan kata lain, industrialisasi berlangsung cepat, tetapi distribusi manfaatnya tidak merata.

Mukhtar menyimpulkan, “Hilirisasi berhasil mempercepat industrialisasi, tetapi gagal menciptakan mekanisme penangkapan nilai bagi masyarakat lokal.”

Era Prabowo: Amerika Serikat Masuk, Membuka Babak Baru Rivalitas

Kini, pada era Presiden Prabowo Subianto, Amerika Serikat mulai masuk melalui investasi energi panas bumi di Halmahera Barat.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi global Amerika Serikat untuk mengurangi dominasi Tiongkok dalam rantai pasok mineral kritis.

Mukhtar menjelaskan bahwa pendekatan Amerika Serikat berbeda secara fundamental.

Jika Tiongkok fokus pada industri ekstraktif dan produksi massal, Amerika Serikat memilih jalur energi bersih, teknologi tinggi, dan standar lingkungan ketat.

“Investasi panas bumi menjadi instrumen geopolitik sekaligus ekonomi,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan Amerika Serikat menawarkan peluang transfer teknologi, standar lingkungan yang lebih ketat, dan integrasi ke pasar global berstandar tinggi.

Halmahera Kini Jadi Arena Kapitalisme Global

Mukhtar menegaskan bahwa Maluku Utara kini berada di persimpangan sejarah. Daerah ini dapat menjadi aktor utama dalam ekonomi global atau tetap menjadi objek eksploitasi.

Ia memperingatkan bahwa kelemahan kapasitas institusional dapat membuat daerah kaya sumber daya gagal menjadi pengendali masa depannya sendiri.

“Jika kapasitas daerah lemah, maka Maluku Utara hanya akan menjadi arena perebutan kekuatan global,” tegasnya.

Namun, ia juga melihat peluang besar jika pemerintah mampu memanfaatkan rivalitas global secara strategis.

Menurutnya, rivalitas Tiongkok dan Amerika Serikat dapat menjadi sumber daya tawar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penentu Masa Depan: Aktor atau Sekadar Penonton

Maluku Utara kini berdiri di titik paling krusial dalam sejarah ekonominya. Dengan cadangan nikel dan energi yang strategis, Halmahera telah menjadi pusat perhatian dunia.

Namun, pertanyaan terbesar bukan lagi siapa yang datang berinvestasi, melainkan siapa yang akan mengendalikan masa depan ekonomi wilayah tersebut.

Tanpa strategi yang kuat, Maluku Utara berisiko mengulang sejarah lama: menjadi objek perebutan global.

Sebaliknya, dengan kebijakan yang tepat, wilayah ini dapat berubah dari pinggiran dunia menjadi pusat kekuatan ekonomi baru.

Pilihan itu kini berada di tangan bangsa sendiri.

***

Mukhtar A Adam, Dosen FEB Universitas Khairun Ternate, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Tiongkok Vs Amerika Serikat, Dari Halteng ke Halbar

Disclaimer

Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments