Langkah bersejarah, tapi rawan pembalasan Israel
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengguncang panggung diplomasi dunia setelah menyatakan niat mengakui negara Palestina. Namun, langkah yang dipuji sebagai kemenangan diplomatik ini dipandang penuh risiko, karena berpotensi memicu respons keras dari Israel tanpa memberi manfaat langsung bagi Palestina.
Pengumuman Macron disampaikan dalam pidato di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Senin lalu. Menurut Istana Elysee, pengakuan ini akan diikuti sembilan negara lain termasuk Inggris, Kanada, Australia, dan Belgia. Jika terealisasi, Prancis dan Inggris akan menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB pertama yang mengakui Palestina, sekaligus negara G7 yang berani mengambil posisi tersebut.
Melansir AFP, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari peta jalan diplomasi Prancis-Saudi. Macron sendiri menyebut pengakuan itu sebagai “cara terbaik mengisolasi Hamas.”
Namun, analis memperingatkan bahwa Israel tidak akan tinggal diam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bisa saja menutup konsulat Prancis di Yerusalem atau mempercepat aneksasi wilayah Tepi Barat. “Akan ada banyak kegaduhan, tapi respons Prancis kemungkinan terbatas,” dikutip seorang diplomat.
Agnes Levallois, Wakil Presiden Institut Penelitian Mediterania dan Timur Tengah, menilai bahwa pada akhirnya Palestina tetap yang paling dirugikan. Ia menekankan, tanpa sanksi konkret terhadap Israel, pengakuan itu hanya akan menambah tekanan politik tanpa hasil nyata.
Peringatan keras juga datang dari Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Paris menyebut langkah Prancis sebagai tindakan gegabah yang justru memperumit situasi. Israel sendiri menuntut agar Prancis tidak melangkah sebelum Hamas membebaskan seluruh sandera.
Di sisi lain, perwakilan Palestina di Prancis, Hala Abou Hassira, mendesak langkah lebih jauh berupa embargo senjata dan pemutusan hubungan dagang Israel-Uni Eropa. Baginya, pengakuan tanpa tindakan nyata sama saja dengan “politik basa-basi.”
Menurut sumber dekat Elysee, keputusan Macron lahir dari pengalaman pribadi saat ia berkunjung ke perbatasan Mesir pada April lalu dan menyaksikan langsung penderitaan warga Palestina akibat blokade. Secara politik, pengakuan ini juga dilihat sebagai cara Macron mengukir warisan setelah gagal menghentikan perang Ukraina dan menghadapi krisis politik dalam negeri.
“Macron ingin menggunakan pengakuan ini sebagai tuas diplomatik untuk menekan Netanyahu,” ungkap seorang pejabat. Mantan diplomat senior Michel Duclos bahkan menyebut langkah itu bisa menjadi “momen Chirac baru” bagi Prancis, mengingatkan pada sikap keras Paris menolak invasi AS ke Irak pada 2003.
***
