Dua kantor berita dunia mendesak Israel bertanggung jawab atas serangan di Gaza yang menewaskan jurnalis, menuntut akuntabilitas nyata dan perlindungan pers.
Dua kantor berita internasional, Reuters dan The Associated Press (AP), menuntut penjelasan resmi dari pemerintah Israel terkait serangan udara di Gaza bulan lalu yang menewaskan lima wartawan. Mereka juga menyerukan langkah konkret agar tragedi serupa tidak terulang.
Melalui pemimpin redaksi mereka, Alessandra Galloni (Reuters) dan Julie Pace (AP), kedua media itu menegaskan sikap tegasnya. “Kami kembali menuntut pertanggungjawaban yang jelas dari otoritas Israel dan mendesak pemerintah untuk memenuhi kewajibannya dalam menjamin kebebasan dan perlindungan pers,” ujar keduanya dalam pernyataan yang dirilis bertepatan dengan peringatan satu bulan serangan tersebut.
Dalam tragedi itu, lima jurnalis tewas, termasuk jurnalis visual Mariam Dagga yang bekerja untuk AP, juru kamera Reuters Hussam al-Masri, dan Moaz Abu Taha, jurnalis lepas yang karyanya dipublikasikan Reuters. Selain itu, 17 orang lainnya juga meregang nyawa.
AP dan Reuters menegaskan para jurnalis itu gugur di Rumah Sakit Nasser, Gaza, yang menurut hukum internasional merupakan lokasi dilindungi. “Insiden sebesar ini membutuhkan penjelasan cepat, akuntabilitas, dan tindakan nyata,” demikian kutipan pernyataan mereka.
Kedua lembaga tersebut telah melayangkan surat bersama segera setelah serangan, namun Israel belum memberikan jawaban. Militer Israel hanya menyebut tengah melakukan penyelidikan dan berdalih target mereka adalah kamera pengawas Hamas, bukan jurnalis. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyebut tragedi itu hanya sebuah “kecelakaan,” tanpa bukti yang mendukung.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat hampir 200 jurnalis dan pekerja media tewas sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023. Jumlah itu jauh lebih besar dibanding korban jurnalis di perang Rusia-Ukraina yang tercatat 18 orang.
Pelaporan AP menilai serangan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai alasan Israel melancarkan serangan ke rumah sakit dan bagaimana cara operasi itu dilakukan. Pernyataan Reuters dan AP juga dikeluarkan sehari sebelum Netanyahu dijadwalkan berpidato di Majelis Umum PBB.
Dagga, 33 tahun, termasuk di antara korban yang meninggal saat Israel menggempur Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, bersama empat wartawan lainnya dan 17 korban sipil.
***
